Netflix, “Diburu” Sri Mulyani, “Dirangkul” Nadiem Makarim

174

KOMPAS.com – Keberadaan Netflix di Indonesia terus menjadi sorotan. Di luar persoalan pajak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) justru menjalin kemitraan dengan Netflix guna mendukung pertumbuhan perfilman Indonesia. Mendikbud Nadiem mengatakan kemitraan dengan Netflix berfokus pada pengembangan kemampuan kreatif insan perfilman Indonesia khususnya menyangkut bidang penulisan kreatif, pelatihan pascaproduksi. Diberitakan Kompas.com (30/10/2019), Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan masih mencari cara agar bisa mengejar pajak Netflix, perusahaan jasa video on demand tersebut. Terlebih menurut Sri Mulyani, perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan. Hingga saat ini, pemerintah diketahui belum bisa menarik pajak dari Netflix karena belum ada regulasi mengenai pajak dari perusahaan over the top (OTT) yang beroperasi di luar negeri, seperti Netflix dan Spotify. Hal itu sebagaimana diberitakan┬áKompas.com (16/1/2020), Sehingga, produk yang dijual perusahaan OTT belum dapat dikenai pajak di Indonesia. Barang berwujud biasanya dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui bea cukai. Sedangkan, barang yang dijual perusahaan OTT merupakan konten berjalan lewat internet. Hal ini membuat Pajak Penghasilan (PPH) juga tidak bisa dikenakan, sebab belum mempunyai Badan Usata Tetap (BUT) di Indonesia.

Lantas, sebenarnya apa Netflix itu? Netflix memungkinkan penggunanya menonton tayangan favoritnya kapan saja dan di mana saja. Tidak hanya dapat diakses di handphone, pengguna dapat mengaksesnya melalui smartTV, tablet, PC, dan laptop. Film digital yang ditawarkan Netflix beraneka ragam. Pengguna Netflix tidak akan risih dengan iklan yang muncul, karena layanannya akan bersih dari iklan. Langganan Untuk menikmati fasilitas yang disediakan, pengguna Netflix harus merogoh kocek untuk membayar langganan setiap bulannya. Terdapat beberapa tipe langganan, yaitu basic, standar, dan premium. Dengan berlangganan, pengguna bisa mengakses sepuasnya, baik serial TV atau film yang tersedia.

Netflix mengusung konsep streaming, sehingga penggunanya juga musti mempunyai koneksi internet yang mumpuni. Kendati begitu, penggunanya dapat menggunakan mode offline.

Keunggulan Sama-sama mengusung konsep streaming, Netflix berbeda dengan aplikasi sejenis seperti Google Play Movies, iFlix, dan HOOQ. Netflix merupakan pelopor sewa film secara online. Lebih lanjut, Netflix didirikan pada 1997, dan menyediakan film paling lengkap dengan wilayah pengoperasian terbanyak. Sementara, Google Play Movies khusus menyasar pengguna Android dan Chrome. Mekanisme yang digunakan layanan Google Play Movies yakni membayar setiap menonton satu film.

Sedangkan, Netflix membayar langganan per bulan dan tidak ada batasan film yang ditonton. Kemudian, HOOQ fokus di bangsa pasar lokal Filipina, dan iFlix menyasar Filipina dan Malaysia. Berbeda dengan Netflix yang telah tersedia di ratusan negara, dan menargetkan terus bertambah. Mode offline Pengguna Netflix yang ingin menggunakan mode offline dapat mengunduh koleksi film yang tersedia. Mode offline tentunya membantu penggunanya untuk tetap bisa menonton film meski di daerah yang tidak didukung koneksi internet dengan baik. Anak-anak Sajian film dan serial televisi di Netflix tak jarang menampilkan adegan yang tidak boleh ditonton anak-anak. Untuk itu, layanan streaming asal Amerika Serikat ini juga menyediakan fitur Parental Controls di akun pengguna. Sehingga, pengguna dapat mengatur konten yang dapat diakses, sesuai tingkat usia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Netflix, “Diburu” Sri Mulyani, “Dirangkul” Nadiem Makarim”, https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/17/125717465/netflix-diburu-sri-mulyani-dirangkul-nadiem-makarim?page=all#page2
Penulis : Mela Arnani
Editor : Sari Hardiyanto