Anggap Harga Gas Mahal, Jokowi: Saya Mau Ngomong Kasar tapi Enggak Jadi

236
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Maruf Amin (kanan) memimpin rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/1/2020). Pada rapat kabinet terbatas tersebut presiden mengajukan tiga usulan dalam menuntaskan persoalan masalah gas untuk industri, salah satunya penghilangan jatah untuk pemerintah. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj.(ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo mengungkapkan kekesalan atas tingginya harga gas industri. Saat memimpin rapat terbatas terkait harga gas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/1/2020), Jokowi bahkan menyatakan bahwa ia ingin berkata kasar karena kesal dengan mahalnya harga gas. Awalnya, Jokowi menjabarkan bahwa tingginya harga gas ini membuat produk-produk Indonesia kalah bersaing dari produk luar.

“Harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri kita di pasar dunia. Kita kalah terus produk-produk kita gara-gara harga gas yang mahal,” kata Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/10/2020). Padahal, Jokowi menyebut ada 6 sektor industri yang menggunakan 80 persen volume gas Indonesia, mula industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja, industri pupuk, dan industri gelas.

Artinya ketika porsi gas sangat besar pada struktur biaya produksi, itu akan berpengaruh pada harga jual produk. “Karena itu saya minta soal harga gas betul-betul dihitung, dikalkulasi agar lebih kompetitif,” kata dia. Dirut Pertamina Nicke Widyawati (kiri) dan Dirut Perusahaan Gas Negara Gigih Prakoso mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/1/2020). Pada rapat kabinet terbatas tersebut presiden mengajukan tiga usulan dalam menuntaskan persoalan masalah gas untuk industri, salah satunya penghilangan jatah untuk pemerintah.

Dirut Pertamina Nicke Widyawati (kiri) dan Dirut Perusahaan Gas Negara Gigih Prakoso mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/1/2020). Pada rapat kabinet terbatas tersebut presiden mengajukan tiga usulan dalam menuntaskan persoalan masalah gas untuk industri, salah satunya penghilangan jatah untuk pemerintah. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj.(ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

Jokowi meminta jajarannya melihat betul penyebab tingginya harga gas.  Mulai dari harga di Hulu, di tingkat lapangan, pada saat penyaluran gas, biaya transmisi gas, sampai di hilir atau di tingkat distributor. Jokowi curiga ada pemain gas yang bermain sehingga membuat harga mahal.

“Pilihannya kan hanya dua. Melindungi industri atau melindungi pemain gas,” kata dia. Di ujung pengantarnya, Jokowi pun mengungkapkan bahwa ia hampir saja berkata kasar karena harga gas yang tinggi ini. “Saya tadi mau ngomong yang kasar tapi enggak jadi. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Anggap Harga Gas Mahal, Jokowi: Saya Mau Ngomong Kasar tapi Enggak Jadi”, https://nasional.kompas.com/read/2020/01/06/16455121/anggap-harga-gas-mahal-jokowi-saya-mau-ngomong-kasar-tapi-enggak-jadi
Penulis : Ihsanuddin
Editor : Krisiandi